Dalam beberapa tahun terakhir, istilah NPC sering muncul di berbagai media sosial seperti TikTok, Twitter, hingga percakapan sehari-hari. Jika sebelumnya istilah ini hanya dimengerti oleh kalangan gamer, kini maknanya telah bergeser dan menjadi bahasa gaul yang punya konotasi cukup unik bagi orang lain.
Singkatan dari NPC adalah Non-Playable Character atau Karakter Non-Pemain. Dalam dunia video game, NPC adalah karakter yang tidak dikendalikan oleh pemain, melainkan oleh sistem atau komputer. Mereka biasanya berperan sebagai pemberi misi, penjual barang, atau sekadar pemanis latar belakang yang berjalan mondar-mandir tanpa memiliki inisiatif atau kehendak bebas sendiri.
Ketika istilah ini masuk ke dalam ranah bahasa gaul, NPC digunakan sebagai ejekan atau pelabelan kepada seseorang yang dianggap tidak memiliki kepribadian unik, tidak punya pendirian, atau sekadar "ikut-ikutan" arus utama tanpa berpikir kritis.
Seseorang disebut NPC dalam bahasa gaul jika mereka:
Popularitas istilah NPC dalam kehidupan nyata dipicu oleh fenomena di mana orang merasa bahwa banyak individu di dunia ini cenderung hidup secara "otomatis". Mereka berangkat kerja, pulang, tidur, dan mengonsumsi konten media sosial yang sama persis setiap harinya tanpa melakukan refleksi diri atau mencoba hal baru.
Di media sosial, istilah ini sering digunakan dalam konteks sindiran. Misalnya, ketika seseorang melihat orang lain yang berperilaku sangat mirip satu sama lain saat sedang tren di suatu tempat, mereka mungkin akan berkomentar, "Tuh, NPC banget perilakunya."
Penggunaan istilah NPC bisa bersifat bercanda, namun bisa juga menjadi penghinaan yang tajam. Menyebut seseorang sebagai NPC berarti mengatakan bahwa mereka tidak "hidup" sepenuhnya atau tidak memiliki keunikan sebagai manusia. Tentu saja, ini adalah pandangan subjektif. Setiap orang memiliki ritme hidupnya sendiri, dan tidak semua orang harus menjadi "karakter utama" atau sosok yang menonjol untuk bisa bahagia.
Kesimpulannya, menjadi NPC dalam bahasa gaul adalah sebuah pengingat (meski kasar) agar kita sesekali keluar dari zona nyaman, memiliki opini pribadi, dan tidak sekadar menjadi pengikut arus agar hidup terasa lebih bermakna dan autentik.