Di era media sosial saat ini, kita sering menjumpai gaya komunikasi yang unik dan kadang membingungkan. Salah satu istilah yang sangat populer di kalangan anak muda dan pengguna internet adalah Humble Brag. Namun, apa sebenarnya maksud dari istilah ini?
Secara bahasa, Humble Brag berasal dari dua kata: Humble (rendah hati) dan Brag (pamer). Jika digabungkan, ini merujuk pada tindakan seseorang yang memamerkan sesuatu, namun dibungkus dengan kalimat yang terlihat merendah atau mengeluh.
Tujuannya adalah untuk menarik perhatian atau mendapatkan pujian dari orang lain tanpa harus terlihat sombong secara terang-terangan. Pelaku humble brag ingin orang lain mengakui pencapaian atau kelebihan mereka, tetapi mereka menggunakan "kedok" berupa keluhan atau rasa tidak percaya diri yang dibuat-buat.
Seseorang bisa dikatakan melakukan humble brag jika mereka menunjukkan tanda-tanda berikut:
Psikologi di balik perilaku ini cukup menarik. Banyak orang merasa tidak nyaman jika terlihat terlalu sombong, sehingga mereka mencari cara "aman" untuk mendapatkan pengakuan. Dengan berpura-pura rendah hati, mereka berharap tetap terlihat baik di mata orang lain sekaligus mendapatkan validasi atas apa yang mereka miliki atau capai.
Namun, fenomena ini sering kali dianggap menyebalkan oleh netizen. Seringkali, orang lain bisa langsung menebak bahwa keluhan tersebut hanyalah taktik untuk mencari perhatian.
Berikut adalah beberapa contoh kalimat yang sering ditemui di media sosial:
"Aku benci banget sama mobilku, boros bensinnya minta ampun. Padahal baru beli model terbaru minggu lalu."
Dalam contoh di atas, fokus utamanya bukan pada "boros bensin", melainkan pada fakta bahwa dia baru saja membeli mobil model terbaru. Keluhan tentang bensin hanyalah cara untuk memamerkan mobil barunya secara halus.
Humble brag adalah seni pamer yang disamarkan. Meski banyak digunakan, cara komunikasi ini sering kali dianggap tidak jujur atau manipulatif oleh orang lain. Bagi Anda yang ingin membangun komunikasi yang tulus, sebaiknya lebih terbuka saja daripada harus membungkus kebanggaan diri dengan keluhan yang tidak perlu.